Selasa, 18 Oktober 2011

Islam Kaffah

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( al- Baqarah : 208-209 ).

Inilah seruan kepada kaum mukminin dengan menyebut iman. Yaitu, sifat atau identitas yang paling mereka sukai, yang membedakan mereka dari orang lain dan menjadikan mereka unik serta menghubungkan mereka dengan Allah yang menyeru mereka itu. Seruan kepada orang orang beriman unfuk masuk Islam secara total’ Pemahaman pertama terhadap seruan ini ialah orang-orang mukmin harus menyerahkan diri secara total kepada Allah, dalam urusan yang kecil maupun yg besar. Hendaklah mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benarnya secara keseluruhan, baik mengenai tashawur,’persepsi, pandangan’, pemikiran’ maupun perasaan, niat maupun amal’,kesenangan maupun ketakutan; dengan tunduk dan patuh kepada Allah, dan ridha kepada hukum dan qadha-Nya, tak tersisa sedikit pun dari semua ini untuk selain Allah. Pasrah yang disertai dengan ketaatan yang mantap, tenang, dan ridha. Menyerah kepada tangan (kekuasaan) yang menuntun langkah-langkahnya. Mereka percaya bahwa “tangan” itu menginginkan bagi mereka kebaikan, ketulusan’ dan kelurusan .

Mereka merasa tenang dan tenteram menempuh jalan itu ketika berangkat dan kembali di duniaataupun diakhirat .Arahan dakwah kepada orang-orang yang beriman ini juga mengisyaratkan bahwa di sana terdapat jiwa-jiwa (manusla) yang senantiasa memberontak dengan keragu-raguan untuk melakukan ketaatan yang mutlak baik secara sembunyi maupun terang-terangan Ini adalah hal yang biasa terdapat di dalam kelompok masyarakat, di samping itu ada jiwa-jiwa yang tenang, percaya kepada Allah, dan ridha’ Ini adalah seruan yang setiap waktu ditujukan kepada orang-orang yang beriman agar mereka menjadi suci dan bersih, tulus dan ikhlas, dan sesuai getaran getaran jiwa dan arah perasaannya dengan apa yang dikehendaki Allah bagi mereka dan juga agar sesuai dengan tuntutan nabi dan agama mereka dengan tanpa keraguan dan kebimbangan serta kegamangan. Ketika seorang muslim mematuhi ini dengan sebenar-benarnya berarti ia telah masuk ke alam kedamaian secara menyeluruh dan ke alam keselamatan secara total. Alam yang penuh kemantapan dan ketenangan, penuh keridhaan dan kemantapan tidak ada kebingungan dan kegoncangan, tidak ada kelinglungan dan kesesatan.

Damai dengan segala yang ada dan segala yang maujud’. Kedamaian yang berseri-seri dalam lubuk hati. Kedamaian yang membayang-bayangi kehidupan dan masyarakat ” kesejahteraan dan keselamatan di bumi dan langit .Keselamatan dan kedamaian yang pertama kali melimpah ke dalam hati melimpah dari tashaawwur-nya yang benar terhadap Allah Tuharnya memancar dari keindahan dan kelapangan tashawwurnya ini .Sesungguhnya, Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya orang muslim menghadapkan arahnya dengan hati yang mantap. Maka jalannya kepada Nya tidak bercerai-berai, penghadapannya kepada Nva tidak berbilang (melainkan cuma satu) dan tidak diombang-ambingkan oleh tuhan ini dan tuhan itu ke sana ke mari sebagaimana ketuhanan berhala dalam jahiliah. Yang ada hanya satuTuhan tempat ia menghadap dengan penuh keyakinan dan kemantapan, dengan terang dan jelas. Dia ( Allah) adalah Tuhan Yang Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa , Apabila seorang muslim menghadap kepada-Nya berarti ia menghadap kepada kekuatan yang sebenarnya yang cuma satu-satunya di alam semesta ini. Ia merasa aman dari semua kekuatan palsu, merasa tenang dan tenteram.. Ia tidak merasa takut kepada seseorang atau kepada sesuatupun. Ia hanya menyembah kepad.a Allah yang Mahakuat, Mahakuasa dan Mahaperkasa. Ia juga tidak khawatir kehilangan sesuatu dan tidak juga berambisi terhadap apa saja yang ada pada orang yang tidak berkuasa untuk mencegah atau memberi.

Dia adalah Tuhan Yang Mahaadil dan Mahabijaksana. Kekuatan dan kekuasaan-Nya merupakan jaminan dari kezaliman, hawa nafsu, dan merugikan hak orang lain. Ia tidak seperti tuhan-tuhan berhala dan kejahiliahan dengan bermacam-macam kemauan dan keinginannya. Dengan demikian, seorang muslim meninggalkan ketuhanan berhala dan berlindung kepada Allah, pilar yang kokoh, untuk mendapatkan keadilan, perlindungan, dan keamanan. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemberi nikrnat dan Pemberi karunia ,Pengampun dosa dan Penerima tobat yang mengabulkan permohonan doa orang yang memohon kepada-Nya dan menghilangkan duka deritanya. Maka, seorang muslim di bawah naungan Allah merasa aman dan tenang, merasa selamat dan berhasil, disayangi kalau lemah, dan diampuni kalau bertobat. Demikianlah seorang muslim menjalani kehidupannya bersama sifat sifat Tuhannya yang dikenalkan oleh Islam kepadanya. Maka’ pada setiap sifat-Nya dia menemukan sesuatu yang menenangkan hatinya dan menenteramkan jiwanya. Dia menemukan sesuatu yang menjamin perlindungan, pemeliharaan kelemah lembutan, kasih sayang keperkasaan,ketahanan, kemantapan, dan keselamatan.

Begitulah Islam melimpahkan ke dalam hati orang muslim pandangan yang benar mengenai hubungan antara hamba dan Tuhan, antara Sang Pencipta dan alam semesta, serta antara alam semesta dan manusia . Maka Allah telah menciptakan alam ini dengan benar serta menciptakan segala sesuatu padanya dengan ukuran dan hikmah. Manusia diciptakan dengan bertujuan, tidak dibiarkan sia-sia telah disiapkan untuknya segala keadaan alam yang sesuai buatnya dan diciptakan pula segala sesuatu di bumi untuknya. Manusia adalah makhluk yang mulia dalam pandangan Allah. Dia adalah khalifah-Nya di muka bumi. Allah senantiasa menolongnya dalam menjalankan kekalifahannya ini, sedang alam sekitarnya merupakan teman yang baik baginya, saling merespons antara ruhnya dan ruh semesta, ketika kedua-duanya menuju kepada Allah-Tuhan Semestaa Alam. Dia diseru kepada festival Ilahi yang diadakan di langit dan bumi ini agar dia senang dan gembira . Dia juga diseru untuk saling berlemah-lembut dan berkasih sayang dengan segala sesuatu dan segala makhluk hidup di alarm yang besar ini. Yakni, semua yang bersorak-sorai dengan teman-teman yang sama-sama diseru seperti dia untuk ikut dalam festival ini, dan sama-sama meramaikannya..

Akidah yang menghentikan pemiliknya di depan tumbuhan kecil ini dan membisikkan kepadanya bahwa dia akan mendapatkan pahala kalau mau menyiramnya ketika ia sedang haus, membantunya unfuk berkembang, dan menghilangkan semua gangguan dari jalannya, adalah akidah yang indah lebih dari sekadar akidah yang mulia. Akidah yang menuangkan kedamaian didalam ruhnya, yang membebaskannya untuk berpelukan mesra dengan seluruh alam semesta, menebarkan keamanan dan kelembutan di sekitarnya, kasih sayang dan keselamatan. Keyakinan akan adanya alam akhirat memiliki peranan yang pokok di dalam mencurahkan keselamatan dan kedamaian ke dalam ruh orang mukmin dan dunianya. Juga berperanan dalam menghilangkan kegundahan, kebencian, dan keputusasaan.

Sesungguhnya perhitungan terakhir bukan di dunia ini dan pembalasan yang sempurna bukan di alam kehidupan yang sementara ini. Karena sesungguhnya perhitungan terakhir ada di sana dan keadilan yang mutlak terkandung di dalam perhitungan ini. Maka ia tidak menyesal kalau melakukan kebaikan dan berjihad di jalan Allah, tetapi belum tampak hasilnya atau belum mendapatkan balasannya. Ia tidak sedih dan bimbang kalau belum mendapatkan balasan yang sempurna dibandingkan orang lain dalam kehidupan ini, karena dia akan mendapatkannya secara sempurna menurut timbangan Allah. Dia juga tidak berputus asa untuk mendapatkan keadilan apabila di dalam perjalanan hidup yang pendek ini tidak mendapatkan bagian yang diinginkannya. Karena keadilan itu pasti akan terwujud, sedang Allah tidak hendak berbuat zalim kepada hamba -hamba-Nya .Keyakinan adanya akhirat juga menjadi penghalang baginya dari melakukan pertarungan gila-gilaan dan panas yang mengotori tata nilai dan segala sesuatu yang patut dihormati, dengan tidak merasa berat dan tidak merasa malu. Maka, di sana ada akhiral di sana juga ada karunia, kekayaan, dan penggantian terhadap segala sesuatu yang terlepas.

Pandangan yang demikian ini akan menimbulkan kedamaian dan keselamatan dalam lapangan perlombaan dan persaingan; tidak merasa paling baik daripada semua gerak-gerik orang yang ikut perlombaan; dan menganggap enteng semua perniagaan yang lepas dari perasaan bahwa safu-satunya kesempatan ialah usia yang pendek dan terbatas ini. Pengetahuan dan kesadaran seorang mukmin adalah bahwa tujuan keberadaan manusia adalah ibadah karena ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini akan mengangkat derajatnya ke cakrawala yang terang benderang, akan mengangkat perasaan dan hati nuraninya akan mengangkat aktivitas-aktivitas dan amalnya dan akan menyucikan semua jalan dan sarananya. Maka, ibadahlah yang ia kehendaki ketika sedang melakukan aktivitas dan amalannya, bekerja dan mengeluarkan belanja menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi, dan merealisasikan berlakunya manhaj Allah padanya , pantaslah kalau dia tidak mau berbuat curang dan durhaka tidak mau mengicuh dan menipu, tidak mau berbuat aniaya dan sewenang-wenang, tidak mau menggunakan caracara yang kotor dan hina, tidak mau tergesa-gesa dalam menempuh tahapannya, tidak mau menempuh jalan pintas (menyimpang dari kebenaran), dan tidak mau mengendarai kesulitan dalam urusannya.

Dia sangat serius melakukan tujuan ibadahnya dengan niat yang ikhlas dan beramal serta bekerja secara konstan (terus menerus) dalam batas-batas kemampuannya. Dengan semua ini, tidaklah berkobar-kobar rasa takut dan ambisi di dalam jiwanya serta tidak bergoncang jiwanya dalam menempuh setiap tahapan dalam perjalanannya. Maka dia beribadah dalam setiap langkahnya, dia mewujudkan tujuan keberadaannya dalam setiap getaran pikirannya dan dia naik menuju Allah dalam setiap aktivitas serta dalam semua lapangannya. Perasaan seorang mukmin selalu berjalan bersama takdir Allah dan selalu melaksanakan ketaatan kepada Allah untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh Allah. Perasaan ini akan menuangkan kedalam ruhnya ketenteraman, kedamaian, dan kemantapan, serta penerang jalannya ” Sehingga mereka tidak bingung, tidak gundah, dan tidak marah-marah dalam menghadapi kendala hambatan, dan kesulitan serta mereka tidak putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, dan juga tidak khawatir akan salah tujuan atau tersia-sia balasannya.

Oleh karena itu, ia merasakan kedamaian didalam jiwanya sehingga ia rela berperang menghadapi musuh musuh Allah dan musuh-musuhnya. Sebab, ia berperang karenaAllah, dijalan Allah, dan untuk menjunjung tinggi agama Allah. Ia tidak berperang untuk mendapatkan kedudukan, harta rampasan, memenuhi ambisi, atau untuk mendapatkan kekayaan kehidupan dunia. Demikian pula perasaannya bahwa dia berjalan pada sunatullah bersama seluruh alam ini. Undang-undang alam adalah undang-undangnya iuga arah alam adalah arahnya juga” (arena itu, tidak berbentuan dan tidak bertentangan, dan tidak boleh mengeksploitasi alam dengan sewenang-vvenang. Seluruh kekuatan alam adalah untuk kekuatannya dengan cahaya yang mengarahkan dirinya. Kekuatan alam ini pun menuju kepada Allah bersamanya . Tugas-tugas yang diwajibkan oleh Islam kepada orang muslim semuanya bersumber dari fitah dan untuk meluruskan fitrah itu, tidak melampaui batas kemampuannya tidak acuh terhadap tabiat dan kejadian manusia tidak mengabaikan satupun potensi manusia dengan tidak membebaskannya untuk beramal, membangun, dan berkembang. Taklif Islam juga tidak melupakan satu pun kebutuhan jasmani dan rohaninya. Tidak pula merajalelakannya dalam kemudahan, kebebasan, dan kelaparan.

Oleh karena itu, ia tidak bingung dan tidak gundah di dalam menghadapi tugas – tugasnya Ia mengembannya sesuai dengan kemampuannya dan ia berjalan di jalannya menuju kepada Allah dengan tenang, bahagia dan damai. Masyarakat yang dibangun oleh manhaj Rabbani ini berada dalam naungan peraturan yang bersumber dari akidah yang bagus dan mulia ini Mereka berada di bawah jaminan –jaminan yang meliputi iiwa kehormatan, dan hartabenda . Semuanya menebarkan keselamatan dan jiwa kedamaian. Demikianlah masyarakat yang saling menyayangi dan saling mencintai, yang saling berhubungan dengan berjalin berkelindan, saling menjamin, dan saling setia Inilah tipe masyarakatyang hendak diwujudkan oleh Islam, dalam bentuknya yang palingtinggi dan paling bersih. Kemudian” diwujudkannya dalam aneka macam bentuk menurut masanya, dengan tingkat-tingkat kejernihan yang berbeda. Akan tetapi secara keseluruhan lebih baik daripada masyarakat lain yang dibentuk oleh kejahiliahan dalam masa lampau ataupun masa sekarang. Juga lebih baik dari semua masyarakat yang dilumuri oleh kejahiliahan ini dengan segala pandangan dan tatanan keduniawiannya. Inilah masyarakat yang diikat dengan unsur akidah yang meleburkan semua unsur kesukuan dan kebangsaan, bahasa dan warna kulit dan semua unsur baru yang tidak ada hubungannya dengan esensi manusia .

Ikhlas

I K H L A S

I. Pendahuluan

Ikhlas berkaitan dengan niat. Ikhlas identik dengan kegiatan membersihkan dan memisahkan dari sesuatu yang kotor menjadi bersih. Seorang muslim dalam beramal dimulai dari niatnya. Niat itu pulalah yang akan menghantarkan ia pada pahala yang melimpah atau tidak sama sekali.

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa berhijrah karena harta yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk sesuatu yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

II. Hakikat Ikhlas

Ikhlas berada dalam hati demikian pula dengan lawannya yaitu syirik, keduanya senantiasa berebut tempat di hati manusia. Oleh sebab itu tempat ikhlas ada di dalam hati dan hal itu berkaitan dengan tujuan dan niat seseorang.
Disebutkan bahwa hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkannya. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan. Istilah ikhlas itu khusus berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlis.

III. Cara Untuk Mengenali Ikhlas

Motivasi seseorang untuk beramal banyak sekali. Oleh karena itu kita perlu mengenali tujuan dari amal kita agar motivasinya tidak tercampur dengan yang lain, seperti riya’ atau kepentingan-kepentingan nafsu lainnya.

Salah satu contoh motivasi yang telah tercampur dengan motivasi yang lain misalnya orang yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dapat dicapai melalui puasa tersebut disamping niat taqarrub. Contohnya antara lain: orang yang pergi haji untuk memperoleh kesegaran suasana untuk bepergian.

Oleh karena itu, para penempuh jalan akhirat harus mencermati amal perbuatan mereka dan memperbaharui niat mereka. Tidak setiap tujuan dalam suatu amal dapat membatalkan amal. Karena itu, siapa yang berpuasa dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah dan mencapai kesehatan maka tidak merusak keikhlasannya. Bahkan jika kesehatannya itu diniatkan untuk memperkuat diri dalam mengamalkan kebaikan maka pahalanya semakin bertambah. Jika ia memaksudkan untuk hak dirinya maka pahala keikhlasan kepada Allah lebih banyak.

Singkatnya, setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit ataupun banyak, apabila merambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan kejernihannya. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis itu.

Akan tetapi hal yang menjadi perhatian adalah apabila tujuan asalnya berupa taqarrub lalu terkontaminasi oleh hal-hal di atas, kemudian kotoran-kotoran ini berada pada tingkat mu’awanah (mendukung).

Jadi, pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengamalannya merupakan lautan yang dalam, semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit, yaitu orang-orang yang dikecualikan dalam firman-Nya: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al Hijr : 40). Maka hendaklah seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang sangat mendetil ini. Jika tidak, maka akan tergolong kepada pengikut syaithan tanpa menyadarinya.

IV. Manfaat Ikhlas

1. Hidup akan tenang karena hati selalu berjaga-jaga untuk mengevaluasi dan meluruskan niat dalam beramal
2. Selalu dimudahkan dalam segala urusannya
3. Memiliki orientasi hidup yang mampu menjangkau jangka panjang yaitu akhirat
4. Pemberat/penambah pahala dalam beramal
5. Mendapat posisi sebaik-baiknya Hamba di sisi Allah dan juga manusia.

V. Penutup

Apabila keikhlasan telah bersemayam di dalam diri, maka setiap amal akan diberkahi oleh Allah SWT. Setiap orang akan berlomba-lomba untuk memberikan amalan terbaiknya karena ia menyadari buah dari ilmu dan keikhlasan adalah amal shaleh.

Referensi :

1. Tadzkiyatun Nafs, Said Hawwa
2. Membina Angkatan Mujahid, Said Hawwa

Ikhlas dan Manfaatnya

Ikhlas kata yang ringkas, ringan diucapkan namun berat untuk di praktekan.
Meski berat, ikhlas harus selalu hadir dalam segala amalan baik manusia.

Ada seorang salaf di zaman dahulu yang selalu pergi menunaikan ibadah haji setiap tahun dengan cara berjalan kaki. Ini merupakan kebiasaanya. Pada suatu malam ketika ia tidur ditempat peraduannya, ibunya meminta tolong agar ia mengambilkan segelas air. Namun ia merasa agak berat untuk bangun mengambilkan air. Kemudian ia kembali, ia teringat pada ibadah haji yang dilakukannya setiap bulan dengan berjalan kaki. Timbul pertanyaan di dalam hatinya, mengapa selama ini ia mengamalkan ajaran berat itu dengan mudah. Sementara, hanya untuk mengambilkan air untuk ibunya ia merasa berat. Kenapa? Ia bermuhasabah, dan kemudian menemukan bahwa yang membuat ia selalu bersemangat adalah pendangan dan pujian manusia. Sadarlah ia bahwa selama ini amalan kebaikannya tersuapi oleh syirik yang lembut. Belum sepenuhnya ikhlas karena Allah. Demikian sebuah riwayat yang disebutkan dalam kitab lathaiful ma’arif.

Ini menjadi gambaran bahwa keikhlasan begitu berat diraih. Seorang ulama salaf yang lain yaitu sufyan bin uyainah pun pernah berkisah, “Pernah suatu hari aku mengalami kekhusuan hati kemudian saya pun menangis. Lantas aku katakan pada diriku sendiri,” ‘Seandainya sebagian sahabat ku berada disini niscaya ia kan menangis bersamaku.’ kemudian aku tertidur dan bermimpi. dalam mimpi itu saya didatangi oleh seseorang, ia menendang kakiku dan berkata, ’Hai Sufyan ambillah pahalamu dari orang yang kamu suka ia melihatmu!’



TAPI HARUS

Meski berat, ikhlas adalah sesuatu yang harus selalu ada dalam setiap amalan kebajikan yang dilakukan. Artinya, seseorang wajib berjuang untuk meraih keikhlasan tersebut. Pentingnya masalah ikhlas sendiri bukan sesuatu yang ditawa-tawar lagi. Siapapun yang mentadaburi kitabullah akan menemukan begitu agungnya nilai keikhlasan ini. Bahkan secara ringkas bisa dikatakan bahwa agama tanpa keikhlasan’ salah satu buktinya adalah surat Az-Zummar ayat23

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan padanya Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syrik)

Oleh kareana itu, seberapapun besarnya amalan yang dilakukan oleh seseorang, baik puasa, shalat, zakat, haji, bahkan jihad sekalipun jika tidak disertai dengan keikhlasan maka tak ada manfaatnya sama sekali. Amalan tersebut tidak akan pernah diterima oleh Allah. Karena amalan kebaikan hanya akan diterima oleh Allah bila memenuhi dua persyaratan, yaitu ikhlas dan benar sesuai dengan syariat.

“AlQuranul Karim telah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan amalan shalih adalah yang melengkapi tiga perkara. Disaat salah satu diantaranya kosong maka amalan tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi pelakunya pada hari kiamat kelak. Salah satu dari ketiga perkara itu adalah: Ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya yang Maha Mulia. Sesuai dengan Firman Allah: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembahkan Allah dengan memurnikan ke’taat kepadanya dalam menjalankan agama yang lurus,” ungkap oleh Syeikh Muhammad Amin asy syinqithi rahimahullah.

BESAR MANFAATNYA
Di saat ikhlas telah tertanam dalam jiwa ketika mengamalkan suatu kebajikan, dan ketaat ini murni hanya dalam rangka mencari wajah Allah maka akan diperoleh manfaat yang besar. Allah akan memberikan ganjaran yang ekstra besar kepada orang-orang yang ikhlas meskipun bilangannya sedikit. Ibnul Mubarak, seorang ulama salaf, memberikan petuah tentang hal ini.

“Betapa banyak amal kecil ( sedikit, sederhana) menjadi besar dengan sebab niatnya (keikhlasannya). Dan betapa banyak amal yang besar (banyak) menjadi kecil nilainyan dengan sebab niat (karena tidak ikhlas ).”


TANPA IKHLAS PEDIH AZAB

Sebuah amalan tidak akan berguna disisi Allah tanpa disertai keihlasan. Bahkan tidak berhenti disini saja. Orang yang tidak ihlas dalam beramal terancam mendapatkan azab yang pedih dari Allah

Rasulullah SAW pernah bersabda: ”Barang siapa belajar ilmu yang seharusnya yang ia mengharapkan wajah Allah, kemudia ia belajar untuk mendapatkan sesuatu dari dunia, maka ia tidak akan mencium baunya surga pada hari kiamat.”(HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Demikian pula dalam berbagai bentuk amalan yang lain termasuk dakwah, jika tidak diniatkan ikhlas maka akan berakhir dengan kerugian, Rasululah bersabda:

Sebagaimana firman Allah: “Aku tidak butuh kepada semua sekutu. Barang siapa beramal mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka aku biarkan dengan sekutunya.”(HR. Muslim, Ibnu Majah)
Dari sini, semakin jelas nilai penting keihlasan. Ia mesti ada dalam setiap aktivitas keagamaan kita. Dalam berilmu, beramal dan berdakwah. Ya, ikhlas adalah salah satu rahasia amal shalih. Duhai Rabbi, mudahkan kami untuk ikhlas kepada-MU.


sumber:.cybermq

Minggu, 09 Oktober 2011

Ayat-ayat Tentang Haji

Q.S Al Hajj : 26 - 31

26. Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu dengan Aku dan sucikanlah Rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.

27. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,


28. supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut Nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas Rezeki yang Allah telah Berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.

29. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)

30. Demikianlah (Perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di Sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di Sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta,

31. dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh anginke tempat yang jauh...

Jumat, 13 Agustus 2010

10 Hal Utama Dikerjakan Bulan Ramadhan

Ada 10 hal yang sangat utama dikerjakan pada bulan Ramadhan:
1. Niat
2. Sahur
3. Tajilul Ifthor (menyegerakan berbuka)
4. Shalat Tarawih
5. Tilawatil Quran
6. Perbanyak Istigfar
7. Infak dan Sodaqoh
8. Banyak berdoa
9. I'tikaf
10. Umroh

Rabu, 11 Agustus 2010

Keutamaan Sahur

"Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah
seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para
malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur." (HR Ibnu Abu Syaibah
dan Ahmad).

Penjelasan:

Dalam hadis ini terdapat dua kata kunci, yaitu "sahur" dan "berkah". Sahur
adalah makan dan minum saat menjelang fajar dan sebelum subuh bagi
orang-orang yang akan menjalankan ibadah shaum. Sahur termasuk amalan
sunah yang dianjurkan (sunnah muakad). Pelaksanaannya lebih utama
diakhirkan.

Ada hadis lain yang mengungkapkan pula keutamaan sahur, di antaranya:
"Mintalah pertolongan (tambahan kekuatan) dengan makan sahur untuk
berpuasa pada siang hari. Dan (mintalah pertolongan) dengan menyedikitkan
siang hari untuk bangun pada malam hari" (HR Hakim).

Dari keterangan ini, kita jangan menganggap sepele sahur. Sahur bukan
sekadar agar saat berpuasa tidak merasa lapar, secara kesehatan sahur pun
berfungsi mengimbangi zat gizi yang tidak diperoleh tubuh selama sehari
berpuasa. Karena itu, makan sahur tidak boleh sekadar kenyang, tetapi
harus bergizi tinggi. Jadi, hidangan untuk makan sayur harus bisa menjadi
cadangan kalori dan protein tinggi serta membuat lambung tidak cepat hampa
makanan. Dengan demikian, rasa lapar tidak cepat dirasakan. Makanan yang
cukup mengandung protein dan lemak adalah nasi, telur, dendeng, rendang,
ikan, dan tentu saja sayur-sayuran.

Yang tak kalah penting, sahur mengandung nilai keberkahan. "Sahur adalah
makanan berkah," demikian sabda Rasulullah SAW Apa yang dimaksud dengan
berkah? Berkah berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Diambil dari kata
al-birkah yang berarti "tempat berkumpulnya air" (kolam). Karena itu,
Ar-Raghib Al-Asfahanny mengartikan berkah sebagai "tetapnya kebaikan Allah
terhadap sesuatu". Sedangkan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengartikan berkah
sebagai "kenikmatan" atau "tambahan". Berkah pun, masih menurut Ibnul
Qayyim, mengandung hakikat sebagai kebaikan yang banyak dan terus menerus
yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah SWT.

Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa berkah
adalah suatu sifat yang di dalamnya mengandung kebaikan. Berkah bisa
berkaitan dengan perbuatan atau ucapan, tempat, dan waktu. Sahur adalah
perkara yang setidaknya mengandung dua keberkahan, yaitu keberkahan dalam
hal perbuatan dan keberkahan dalam hal waktu pelaksanaan.

Berkaitan dengan keberkahan sahur sebagai perbuatan, Rasulullah SAW
bersabda, "Dari Anas bin Malik Rasulullah SAW bersabda, "Makan sahurlah
kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan". Juga hadis dari
Ahmad dan An-Nasai, "Sesungguhnya dia (makan sahur) adalah berkah yang
diberikan Allah kepada kalian, maka jangan kalian meninggalkannya".

Sahur memiliki keutamaan, sehingga Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk
tidak meninggalkannya walau hanya seteguk air. "Jangan kalian tinggalkan
(sahur) walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air,
karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur".

Berkaitan dengan waktu, keberkahan sahur terjadi karena dilakukan di
sepertiga malam terakhir. Inilah waktu mustajabnya doa; saat Allah SWT
"turun" ke bumi; dan saat orang-orang beriman biasa melakukan shalat malam
(QS Al-Israa [17]: 79). Bila dua keberkahan (perbuatan dan waktu) menjadi
satu, maka sangat rugi bila kita mengabaikannya.

Bagaimana caranya agar sahur kita maksimal? Intinya, kita harus menambah
porsi zikir pada saat sahur dibanding porsi makanan yang kita konsumsi.
Maka sangat dianjurkan bila sebelum sahur kita mengawalinya dengan
berwudhu, shalat, berdoa, serta zikir. Rasul bersabda, "Rabb kita turun
pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.
Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya.
Siapa yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya, dan siapa yang meminta
ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya" (HR Bukhari). Wallahu a'lam.( )

Selasa, 10 Agustus 2010

Keutamaan Shalat Barisan depan

Shalat adalah kewajiban yang paling utama bagi orang yang beragama Islam karena amal yang paling pertama di hisab adalah shalatnya. Tetapi pada kenyataannya diantara kita masih ada shalatnya yang kurang sempurna dan ada yang sudah sempurna.

Pada tulisan ini sebenarnya tidak akan membahas tentang shalat secara keseluruhan hanya beberapa hal saja yang terkait tata cara shalat antara Imam dan Ma'mum (dalam kitab Bulughul Marom), pada prinsipnya ma'mum tidak boleh mendahului imam. Tetapi ada beberapa pertanyaan bagaimana kalau imamnya duduk, apakah ma'mum ikut duduk atau berdiri? yang ke dua, bagaimana tata cara ma'mum yang duduk sedangkan imamnya berdiri?
Dalam kitab bulughul marom dijelaskan bahwa apabila Imam dalam shalat duduk makan ma'mum juga duduk, dengan alasan untuk penyetaraan. Jawaban pertanyaan kedua, bahwa jika ma'mum duduk sedang imam shalat berdiri maka diharuskan ma'mum tersebut menunggu gerakan imam (contoh dalam bersujud ma'mum yang duduk tidak boleh bergerak sebelum imam sujud) hal ini dikhawatirkan kalau ma'mum bergerak sebelum imam sujud akan mendahului imam.

Dijelaskan lagi tentang tata cara imam membaca ayat-ayat Qura'an dalam shalat bahwa dianjurkan agar imam meringankan shalat yaitu dengan tidak membaca ayat atau surat yang terlalu panjang, beberapa alasannya yaitu:
1. Dikhawatirkan ma'mum sudah ada yang tua (orang tua);
2. Dikhawatirkan ma'mum ada anak-anak (yang menganggu shalat);
3.Dikhawatirkan ma'mum ada yang lemah fisiknya;
4.Dikhawatirkan ma'mum ada yang punya janji dan keperluan lainnya yang mendesak.

Masih terkait dengan shalat yaitu tata cara azdan, menurut guru penulis azdan yang sunat untuk dijawab adalah azdan yang tidak terlalu panjang atau mendayu-dayu, tetapi yang sunat untuk dijawab adalah azdan yang sedang-sedang saja. Bahkan menurut guru penulis azdan yang terlalu panjang jika kita jawab makan tidak mendapat pahala sunat menjawab azdan (bisa dikonfirmasikan dg guru yang lain)

Keutamaan Shalat Pada Barisan Depan
Menurut Imam Nawawi ada beberapa tingkatan keutamaan shalat menurut barisannya, yaitu apabila shalat pada barisan paling depan maka pahalanya seperti kurban seekor unta, pada barisan kedua pahalanya seperti kurban seekor sapi, barisan ketiga seperti kurban kambing, barisan keempat seperti kurban seekor ayam, dan pada barisan kelima seperti kurban telor. Tapi kata ustad masih lumayanlah kalau telornya banyak bisa dibagi-bagi. wallohu 'alam

Asmaul Khusna

Di dalam kitab suci Al-Qur'an Allah SWT disebut juga dengan nama-nama sebutan yang berjumlah 99 nama yang masing-masing memiliki arti definisi / pengertian yang bersifat baik, agung dan bagus. Secara ringkas dan sederhana Asmaul Husna adalah sembilanpuluhsembilan nama baik Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Araf ayat 180 :

"Allah mempunyai asmaul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".

Berikut ini adalah 99 nama Allah SWT beserta artinya :
1. Ar-Rahman (Ar Rahman) Artinya Yang Maha Pemurah
2. Ar-Rahim (Ar Rahim) Artinya Yang Maha Mengasihi
3. Al-Malik (Al Malik) Artinya Yang Maha Menguasai / Maharaja Teragung
4. Al-Quddus (Al Quddus) Artinya Yang Maha Suci
5. Al-Salam (Al Salam) Artinya Yang Maha Selamat Sejahtera
6. Al-Mu'min (Al Mukmin) Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan
7. Al-Muhaimin (Al Muhaimin) Artinya Yang Maha Pengawal serta Pengawas
8. Al-Aziz (Al Aziz) Artinya Yang Maha Berkuasa
9. Al-Jabbar (Al Jabbar) Artinya Yang Maha Kuat Yang Menundukkan Segalanya
10. Al-Mutakabbir (Al Mutakabbir) Artinya Yang Melengkapi Segala kebesaranNya
11. Al-Khaliq (Al Khaliq) Artinya Yang Maha Pencipta
12. Al-Bari (Al Bari) Artinya Yang Maha Menjadikan
13. Al-Musawwir (Al Musawwir) Artinya Yang Maha Pembentuk
14. Al-Ghaffar (Al Ghaffar) Artinya Yang Maha Pengampun
15. Al-Qahhar (Al Qahhar) Artinya Yang Maha Perkasa
16. Al-Wahhab (Al Wahhab) Artinya Yang Maha Penganugerah
17. Al-Razzaq (Al Razzaq) Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. Al-Fattah (Al Fattah) Artinya Yang Maha Pembuka
19. Al-'Alim (Al Alim) Artinya Yang Maha Mengetahui
20. Al-Qabidh (Al Qabidh) Artinya Yang Maha Pengekang
21. Al-Basit (Al Basit) Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat
22. Al-Khafidh (Al Khafidh) Artinya Yang Maha Perendah / Pengurang
23. Ar-Rafi' (Ar Rafik) Artinya Yang Maha Peninggi
24. Al-Mu'izz (Al Mu'izz) Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan
25. Al-Muzill (Al Muzill) Artinya Yang Maha Menghina
26. As-Sami' (As Sami) Artinya Yang Maha Mendengar
27. Al-Basir (Al Basir) Artinya Yang Maha Melihat
28. Al-Hakam (Al Hakam) Artinya Yang Maha Mengadili
29. Al-'Adl (Al Adil) Artinya Yang Maha Adil
30. Al-Latif (Al Latif) Artinya Yang Maha Lembut serta Halus
31. Al-Khabir (Al Khabir) Artinya Yang Maha Mengetahui
32. Al-Halim (Al Halim) Artinya Yang Maha Penyabar
33. Al-'Azim (Al Azim) Artinya Yang Maha Agung
34. Al-Ghafur (Al Ghafur) Artinya Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakur (Asy Syakur) Artinya Yang Maha Bersyukur
36. Al-'Aliy (Al Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
37. Al-Kabir (Al Kabir) Artinya Yang Maha Besar
38. Al-Hafiz (Al Hafiz) Artinya Yang Maha Memelihara
39. Al-Muqit (Al Muqit) Artinya Yang Maha Menjaga
40. Al-Hasib (Al Hasib) Artinya Yang Maha Penghitung
41. Al-Jalil (Al Jalil) Artinya Yang Maha Besar serta Mulia
42. Al-Karim (Al Karim) Artinya Yang Maha Pemurah
43. Ar-Raqib (Ar Raqib) Artinya Yang Maha Waspada
44. Al-Mujib (Al Mujib) Artinya Yang Maha Pengkabul
45. Al-Wasi' (Al Wasik) Artinya Yang Maha Luas
46. Al-Hakim (Al Hakim) Artinya Yang Maha Bijaksana
47. Al-Wadud (Al Wadud) Artinya Yang Maha Penyayang
48. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
49. Al-Ba'ith (Al Baith) Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula
50. Asy-Syahid (Asy Syahid) Artinya Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq (Al Haqq) Artinya Yang Maha Benar
52. Al-Wakil (Al Wakil) Artinya Yang Maha Pentadbir
53. Al-Qawiy (Al Qawiy) Artinya Yang Maha Kuat
54. Al-Matin (Al Matin) Artinya Yang Maha Teguh
55. Al-Waliy (Al Waliy) Artinya Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamid (Al Hamid) Artinya Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhsi (Al Muhsi) Artinya Yang Maha Penghitung
58. Al-Mubdi (Al Mubdi) Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal
59. Al-Mu'id (Al Muid) Artinya Yang Maha Mengembali dan Memulihkan
60. Al-Muhyi (Al Muhyi) Artinya Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumit (Al Mumit) Artinya Yang Mematikan
62. Al-Hayy (Al Hayy) Artinya Yang Senantiasa Hidup
63. Al-Qayyum (Al Qayyum) Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri
64. Al-Wajid (Al Wajid) Artinya Yang Maha Penemu
65. Al-Majid (Al Majid) Artinya Yang Maha Mulia
66. Al-Wahid (Al Wahid) Artinya Yang Maha Esa
67. Al-Ahad (Al Ahad) Artinya Yang Tunggal
68. As-Samad (As Samad) Artinya Yang Menjadi Tumpuan
69. Al-Qadir (Al Qadir) Artinya Yang Maha Berupaya
70. Al-Muqtadir (Al Muqtadir) Artinya Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqaddim (Al Muqaddim) Artinya Yang Maha Menyegera
72. Al-Mu'akhkhir (Al Muakhir) Artinya Yang Maha Penangguh
73. Al-Awwal (Al Awwal) Artinya Yang Pertama
74. Al-Akhir (Al Akhir) Artinya Yang Akhir
75. Az-Zahir (Az Zahir) Artinya Yang Zahir
76. Al-Batin (Al Batin) Artinya Yang Batin
77. Al-Wali (Al Wali) Artinya Yang Wali / Yang Memerintah
78. Al-Muta'ali (Al Muta Ali) Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia
79. Al-Barr (Al Barr) Artinya Yang banyak membuat kebajikan
80. At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat
81. Al-Muntaqim (Al Muntaqim) Artinya Yang Menghukum Yang Bersalah
82. Al-'Afuw (Al Afuw) Artinya Yang Maha Pengampun
83. Ar-Ra'uf (Ar Rauf) Artinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang
84. Malik-ul-Mulk (Malikul Mulk) Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal
85. Dzul-Jalal-Wal-Ikram (Dzul Jalal Wal Ikram) Artinya Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit (Al Muqsit) Artinya Yang Maha Saksama
87. Al-Jami' (Al Jami) Artinya Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniy (Al Ghaniy) Artinya Yang Maha Kaya Dan Lengkap
89. Al-Mughni (Al Mughni) Artinya Yang Maha Mengkayakan dan Memakmurkan
90. Al-Mani' (Al Mani) Artinya Yang Maha Pencegah
91. Al-Darr (Al Darr) Artinya Yang Mendatangkan Mudharat
92. Al-Nafi' (Al Nafi) Artinya Yang Memberi Manfaat
93. Al-Nur (Al Nur) Artinya Cahaya
94. Al-Hadi (Al Hadi) Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk
95. Al-Badi' (Al Badi) Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya
96. Al-Baqi (Al Baqi) Artinya Yang Maha Kekal
97. Al-Warith (Al Warith) Artinya Yang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyid (Ar Rasyid) Artinya Yang Memimpin Kepada Kebenaran
99. As-Sabur (As Sabur) Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

Pesan Imam Ghazali Kepada Murid2nya

Pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid- muridnya menjawab “Orang tua, guru, kawan ,dan sahabatnya”. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “mati”. Sebab, sesuai dengan janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.(Ali Imran : 185)
Kedua.”Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab “Negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang”. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “masa lalu”. Walau dengan cara apa sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab “Gunung, bumi dan matahari”. semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “nafs” (Al-A’raaf :179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Keempat. “Apa yang paling berat di dunia ini?”. Ada yang menjawab “besi dan gajah” Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang amanah” (Al-Ahzab:72) Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Kelima. “Apa yang paling ringan di dunia ini?” Ada yang menjawab “Kapas, angin, debu dan daun-daunan”. Semua itu benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “meninggalkan sholat”. Gara-gara pekerjaan, kita meninggalkan sholat; gara-gara bermasyarakat, kita meninggalkan sholat.
Keenam. “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, “pedang”. Benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia” Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Pahala Berpuasa Bulan Ramadhan

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’” (HR. Bukhari no. 1904)

Dalam riwayat Ahmad dikatakan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa

Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)

Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.

Amalan Puasa Khusus untuk Allah

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.

Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.” Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.

Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga

Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”

Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.

Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.

Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa

Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”

Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.

Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Qs. Al Muzammil: 20)

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (Qs. Ali Imron: 30)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Qs. Az Zalzalah: 7)

Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah

Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:

[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.

[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.

Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap ridho Allah. Semoga kita dapat meraih beberapa keutamaan di atas dari amalan puasa Ramadhan yang kita lakukan nanti. Semoga Allah memberi kita selalu ilmu yang bermanfaat, rizki yang Barokah dan amalan yang diterima. Amiin 354x